Wednesday, April 29, 2015

Hari kartini di maknai banyaknya 'kartini' berbentuk 'kartono' di zaman sekarang. Mulai dari wanita menjadi penjaga parkir, pemulung, tempel ban, pemungut sampah, walikota, pejabat hingga menteri. semua logika makna kartini adalah " Wanita bekerja di luar rumah"
Padahal, dengan membanggakan profesi - profesi di atas berarti membanggakan penjajahan kapitalisme - eksploitasi wanita akibat liberalisme. yang esesnsinya wanita harus bisa berkiprah menyaingi fungsi pria dalam mencari nafkah bekerja di luar rumah meninggalkan fungsi utamanya.
Eksploitasi wanita - ala makna Kartini sesungguhnya adalah konspirasi barat dalam menjauhakan wanita muslim untuk memhami hukum - hukum islam. Khususnya terkait fungsi dan perannya dalam rumah tangga.
Lebih dari itu, dengan demikian wanita hanya menjadi  tidak di butuhkan di dunia jika perannya di luar rumah tak dilakukan. Inilah Jahiliyah Gaya baru - wanita di nistakan, politi wanita di simpangkan dan dijauhkan dari islam sesungguhnya.
Yukkk berubah. Itulah kata yang pantas untuk para wanita era kini. Dengan menyadarkan menyadarkan masyarakat dengan Ash-Shira’ul Fikri (Pergolakan Pemikiran) untuk menentang ideologi, peraturan-peraturan dan ide-ide kufur, selain untuk menentang aqidah yang rusak, ide-ide yang sesat dan pemahaman-pemahaman yang rancu.
Aktivitas ini dilakukan dengan cara menjelaskan kepalsuan, kekeliruan dan kontradiksi ide-ide fenisme - emansipasi dengan Islam, untuk memurnikan dan menyelamatkan wanita dari ide-ide yang sesat itu, serta dari pengaruh dan dampak buruknya.
Gagal faham soal media pemecah belah. Gagal faham soal penebar kebencian. Siapa yang ikut arus opini maisnstream itu dipastikan memiliki sifat tuna idealisme. Memang tak selamanya idealisme itu harus minoritas, tapi harusnya tak selama kegoblokan itu mengituki mayotitas.
Oleh karena itu dalam dakwah juga harus punya karakter khas yang dilahirkan dari pemikiran idelogis. pilihannya hanya dua : mau islam idologis atau sekuler idelogis.
 
Disinilah korelasinya umat Islam jangan mau di simpangkan pemikirannya dari pemahaman Islam yang benar. Karena Penyimpangan pemikiran kita sesungguhnya ada pada penyimpangan makna makna Islam (definisi) yang benar.

Harus juga diperhatikan, bahwa di balik istilah ada konotasi (musamma) , yang menggambarkan konsep (fikrah) dan metode (thariqah) tertentu. Masing-masing juga dibangun dengan akidah dan sistem yang berbeda. Karena itu penggunaan istilah yang mempunyai konotasi berbeda jelas merupakan bentuk penyesatan berpikir (tadhlil fikri). Misal, negara kesatuan republik, uni-emirate atau kerajaan Arab untuk menyebut Khilafah jelas merupakan bentuk penyesatan berpikir (tadhlil fikri)
Cerita cinta itu akan selalu menjadi indah di ikuti - karena tidak ada ujungnya sampai kematian. Itulah manusia yang akan merasa bahagia dengan panantian.Menunggu tersanjung untuk di puji - menunggu apresiasi untuk menyemangati diri. Mungkin itu sebab sinetron Tersanjung menjadi sinetron terfaporit dahulu - karena disana ada siraman hati yang tak disangka - sangka datang.
Islam itu indah - sejatinya karena dalam Islam itu ada harapan nyata...
maka janganlah terbuai dengan kata - kata Indahnya Cinta - karena sesungguhnya mereka semua pendusta - Allah Jualah tempat bersandar Abadi yang setia selamanya.

Cintailah cinta karena disana letaknya keindahan dunia. Cinta yang semua itu tanpa adanya kepastian - sementara cinta sejati itu adanya kepastian dan kenyataan. 
Yang penting bagi rakyat Indonesia Kesejahteraan Atau Demokrasi?
Jika kesejahteraan di capai tanpa demokrasi Rakyat mau ga?
Jika demokrasi ga ada hubungannya dengan kesejahteraan, Lalu untuk apa?
jika demokrasi memberi kesejahteraan mana buktinya?
kalau kesejahteraan itu bisa di raih dengan selain demokrasi, salah?
kalau kemudian demokrasi belum tentu memberikan kesejahteraan, apa harus di perthanakan? bukankah kini rakyat sedang menderita?
kalau demokrasi jalan kesejahteraan - lalu benarkah jalan ini sampai pada tujuan?
kalau penerapan seutuhnya demokrasi untuk kesejahteraan - benarkah itu demikian? jika utuh demokrasi diterapkan, dan tidak sejahtera - maka?
Mau demokrasi atau mau sejahtera?
kalau demokrasi itu diterapkan utuh lalu tidak sejahtera, apakah masih mau di pertahankan?
Demokrasi itu tujuan bernegara atau alat untuk bernegara?
Negeri ini mau mencontoh negara mana dalam berdemokrasi?
Sejahtera harga mati atau demokrasi harga mati?
=================================================
Demokrasi itu sudah mati atau sedang mati?
Demokrasi itu nyata atau ilusi?
Demokrasi itu harapan atau kenyataan?
Demokrasi itu ...
Keprihatinan terhadap pesta bikini bagi siswa-siswi SMA di Jakarta dan Bekasi untuk mengusir penat setelah UN, tersebar di media sosial. 'Pesta Bikini Rayakan UN' pun nangkring jadi trending topic di Twitter. 

Hingga Kamis (23/4/2015), pukul 12.30 WIB, tema tersebut masih nangkring di trending topic Indonesia, setelah sebelumnya sempat mampir juga di trending topic dunia. Kebanyakan netizen mengungkapkan keprihatinannya
***Pesta Bikini ini dipastikan jadi jalur perzinaan yang akan merajalela. Sudah minim pemahaman soal aurat, mala aurat sengaja di pertontonkan jadi hiburan. inilah negeri dimana remajanya banyak tak beradab - minus pemahamaan Islam - penguasa tiarap demi kepuasaan nafsu sesaat.

Hapus Zina dengan Islam. 
Pesta bikini jalan untuk pelacuran. dan ini sungguh jauh dari Islam. Sebab, pelacuran adalah perzinaan. Dan dalam Islam, perzinaan termasuk dosa besar dan merupakan perbuatan keji yang diharamkan. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (TQS Al-Isra [17]: 32).
Tidak satupun umat Islam di dunia ini yang tidak paham ayat masyhur ini. Entah Islam KTP, para pelajar, mahasiswi, karyawan, pegawai, pejabat dan terlebih ulama, tak ada yang berbeda penafsiran tentang haramnya perzinaan ini. Tapi mengapa zina semakin merajalela di depan mata? berbikini di banggakan secara ria, bahkan di publis ke sosial media. Ke mana gerangan penguasa negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini?
Peran Negara Demi Hapuskan Zina
Tidak ada orang tua yang bangga anaknya menjadi pelacur. Setiap orang tua tentu berusaha menjauhkan anak-anaknya dari kemaksiatan. Namun, menjadi orang tua saat ini memang tidak mudah. Wejangan kebaikan yang ditanamkan di rumah, belum tentu diaplikasikan anak-anak di luar rumah. Sebab, pengaruh lingkungan dan media massa sangat mendominasi.
Di sinilah peran pemerintah sangat strategis. Negaralah yang punya wewenang untuk melarang pesta bikini itu. Tidak ada kata tidak mungkin jika ada kemauan. Hal yang harus dilakukan antara lain pertama, memberi hukuman berat bagi pelaku, baik suka atau tidak suka.

Caranya, tutup tempat-tempat pelacuran yang terang-terangan ada datanya dan diketahui masyarakat umum. Tangkap orang yang posting poster itu, pezina komersial dan pelanggannya yang ikut didalamnya. Sekalipun remaja belasan tahun, asal sudah baligh tidak layak dibela sebagai korban. Mereka adalah pelaku, layak diganjar sanksi.
Untuk tindakan preventif. maka pemerintah harus melarang berkembangnya industri porno, termasuk larangan menyiarkannya melalui media massa apapun. Baik media cetak, televisi, VCD porno, konten di internet, games, bioskop, komik, buku, dll. Demikian pula melarang propaganda ideologi asing yang mengampanyekan gaya hidup hedonis, seperti pergaulan bebas, penyimpangan seksual, trend yang bertentangan dengan syariah, dll.
lalu, memproteksi anak-anak dan remaja dari tindak kejahatan seksual, termasuk perdagangan manusia yang menjerumuskan anak dan remaja ke lembah hitam. Keempat, menciptakan sistem pendidikan berbasis agama Islam yang mampu melahirkan anak didik bermoral, bersyakhsiyah Islamiyah dan terjauhkan dari kemaksiatan. Kelima, menerapkan sistem pergaulan sosial berdasar aturan Islam yang menjamin minimnya interaksi campur baru laki-laki dan perempuan.
Semua itu hanya bisa dilakukan oleh negara yang berlandaskan ideologi Islam. Mengharapkan terhapusnya perzinaan dan pelacuran di negara demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan bertingkah laku ini sangat mustahil. Karena itu, saatnya mengubah negeri ini menuju penerapan ideologi Islam secara kaffah, agar tak ada lagi remaja-remaja menjual diri, apalagi menjadi peserta pesta bikini yang mudah melakukan prostitusi bahkan jadi mucikari. Na├║dubillahi mindzalik.
Tahukah Anda? Ferdinand de Lesseps (1805-1894) ternyata bukan orang yang pertama membangun Terusan Suez. Jadi sebenarnya insinyur Perancis yang tinggal lama di Mesir itu tidak berhak menyandang julukan sebagai Si Pembangun Terusan Suez.
Di antara kejeniusan Amirul Mukminin Umar bin al-Khatthab adalah gagasan menghubungkan Laut Merah dengan Laut Putih Tengah dengan b
erbagai potensi domestik yang telah dikenal pada zamannya. Juga kemampuannya mewujudkan proyek tersebut dalam waktu yang relatif singkat sehingga terusan tersebut bisa dilalui kapal-kapal.
Musim dingin tahun 641-642 M, setelah Amru bin Ash ra, wali Mesir kala itu, mendapatkan izin dari Amir Mukminin Umar bin al-Khatthab ra, ia membuka terusan yang menghubungkan antara Laut Qalzim dengan Laut Romawi atau di posisinya sekarang,dikenal dengan nama Terusan Amirul Mukminin.
Al-Qadha’i berkata, Umar bin al-Khatthab telah menginstruksikan kepada Amru bin al-Ash, pada saat musim paceklik untuk mengeruk teluk yang berada di samping Fusthath, kemudian dialiri dengan air dari Sungai Nil hingga Laut Qalzim. Belum sampai setahun, teluk ini pun bisa dilalui oleh kapal dan digunakan untuk mengangkut logistik ke Makkah dan Madinah. Teluk ini pun bisa dimanfaatkan penduduk dua tanah suci tersebut sehingga disebut Teluk Amirul Mukminin. Al-Kindi menuturkan, bahwa teluk tersebut dikeruk pada tahun 32 H dan selesai hanya dalam waktu enam bulan. Kapal-kapal pun sudah bisa lalu lalang menyusuri teluk tersebut hingga sampai di Hijaz pada bulan ketujuh.
Terusan ini sangat membantu penduduk Mesir hingga era Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, yang dibendungnya untuk memutus aliran dan dukungan Mesir terhadap perlawanan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Hijaz.
Sebagian sumber sejarah juga menyebutkan, bahwa Amru bin al-Ash telah memikirkan untuk menghubungkan dua Laut Putih dan Merah, namun tampaknya yang dimaksud adalah terusan lain, yang membelah antara Selat Timsah dengan Barzakh, antara Mesir dan Sinai hingga Laut Tengah. Hanya saja, rencana ini telah dibatalkan karena pertimbangan militer yang ada pada zamannya.
Pada zaman Khilafah Utsmaniyyah, teluk ini telah dibersihkan tiap tahun. Pada musim dingin, teluk ini biasanya ditutup kemudian dikeruk dan dibersihkan seperti perayaan. Biasanya dilakukan pada bulan Agustus. Lumpur yang dikeruk tersebut kemudian diangkat dan ditimbun di samping kanan-kiri aliran teluk. Pada era Khilafah Utsmaniyyah, teluk ini banyak menarik perhatian penduduk setempat. (Hafizd Abdurrahman)
Oleh : KH. M Shiddiq Al Jawi
Bolehkah seorang laki-laki dewasa menikahi seorang anak perempuan yang masih kecil dan belum haidh (seperti kasus Syekh Puji)?
Hukumnya boleh (mubah) secara syar'i dan sah seorang laki-laki dewasa menikahi anak perempuan yang masih kecil (belum haid). Dalil kebolehannya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dalil Al-Qur`an adalah firman Allah SWT (artinya) :
"Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid." (QS Ath-Thalaq [65] : 4).
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud "perempuan-perempuan yang tidak haid" (lam yahidhna), adalah anak-anak perempuan kecil yang belum mencapai usia haid (ash-shighaar al-la`iy lam yablughna sinna al-haidh). Ini sesuai dengan sababun nuzul ayat tersebut, ketika sebagian shahahat bertanya kepada Nabi SAW mengenai masa iddah untuk 3 (tiga) kelompok perempuan, yaitu : perempuan yang sudah menopause (kibaar), perempuan yang masih kecil (shighar), dan perempuan yang hamil (uulatul ahmaal). Jadi, ayat di atas secara manthuq (makna eksplisit) menunjukkan masa iddah bagi anak perempuan kecil yang belum haid dalam cerai hidup, yaitu selama tiga bulan.
Imam Suyuthi dalam kitabnya Al-Iklil fi Istinbath At-Tanzil hal. 212 mengutip Ibnul Arabi, yang mengatakan,"Diambil pengertian dari ayat itu, bahwa seorang [wali] boleh menikahkan anak-anak perempuannya yang masih kecil, sebab iddah adalah cabang daripada nikah."
Jadi, secara tidak langsung, ayat di atas menunjukkan bolehnya menikahi anak perempuan yang masih kecil yang belum haid. Penunjukan makna (dalalah) yang demikian ini dalam ushul fiqih disebut dengan istilah dalalah iqtidha`, yaitu pengambilan makna yang mau tak mau harus ada atau merupakan keharusan (iqtidha`) dari makna manthuq (eksplisit), agar makna manthuq tadi bernilai benar, baik benar secara syar'i (dalam tinjauan hukum) maupun secara akli (dalam tinjauan akal). Jadi, ketika Allah SWT mengatur masa iddah untuk anak perempuan yang belum haid, berarti secara tidak langsung Allah SWT telah membolehkan menikahi anak perempuan yang belum haid itu, meski kebolehan ini memang tidak disebut secara manthuq (eksplisit) dalam ayat di atas.
Adapun dalil As-Sunnah, adalah hadits dari 'Aisyah RA, dia berkata :
“Bahwa Nabi SAW telah menikahi 'A`isyah RA sedang 'A`isyah berumur 6 tahun, dan berumah tangga dengannya pada saat 'Aisyah berumur 9 tahun, dan 'Aisyah tinggal bersama Nabi SAW selama 9 tahun." (HR Bukhari, hadits no 4738, Maktabah Syamilah). Dalam riwayat lain disebutkan : Nabi SAW menikahi 'A`isyah RA ketika 'Aisyah berumur 7 tahun [bukan 6 tahun] dan Nabi SAW berumah tangga dengan 'Aisyah ketika 'Aisyah umurnya 9 tahun. (HR Muslim, hadits no 2549, Maktabah Syamilah).
Imam Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar (9/480) menyimpulkan dari hadits di atas, bahwa boleh hukumnya seorang ayah menikahkan anak perempuannya yang belum baligh (yajuuzu lil abb an yuzawwija ibnatahu qabla al-buluugh).
Berdasarkan dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa mubah hukumnya seorang laki-laki menikah dengan anak perempuan kecil yang belum haid. Hukum nikahnya sah dan tidak haram. Maka segala UU yang mengharamkan pernikahan anak perempuan yang belum haid (di bawah umur), sungguh tidak ada nilainya di hadapan nash-nash syara' yang suci. Wallahu a'lam

Kanal

Follow by Email

Blog Archive

Popular Posts